FORSUM

Home » Dasar Forsum » Bahan Pakan » Contoh » Asam Amino » Metionin

Metionin

Metionin adalah asam amino mengandung sulfur dan essensial (undispensable) bagi manusia dan ternak monogastrik sehingga metionin harus tersedia di dalam ransum ternak. Schutte et al. (1997) menyatakan bahwa metionin adalah suatu zat esensial untuk unggas.

Menurut Huygherbaert et al. (1994), pembentukan daging bagian dada broiler sangat sensitif dipengaruhi oleh metionin di dalam ransum. Sigit (1995) menyatakan bahwa asam amino metionin juga merupakan salah satu kerangka pembentuk protein tubuh, sedangkan protein pada tiap jaringan tubuh berbeda kandungan asam aminonya, dengan kata lain asam amino menentukan corak dan fungsi jaringan tubuh.

Asam amino metionin sangat diperlukan untuk kecepatan pertumbuhan dan hidup pokok semua hewan. Salah satu akibat bila terjadi kekurangan asam amino metionin adalah lambatnya laju pertumbuhan (Prawirokusumo et al., 1987).

Metionin merupakan donor sulfur bagi sistein dan sistin. Sistein (asam amino non essensial) mendapatkan sulfur dari metionin dan kerangka karbon dari serin. Apabila sistein dan sistin kurang maka metionin dan serin akan dirombak melalui proses transmetilasi, sehingga memperbesar kebutuhan metionin (Sanchez et al., 1984). Metionin juga menjadi donor metil untuk pembentukan kholin melalui transmetilasi. Sebaliknya, kholin dapat mendonorkan metilnya pada homosistein, sehingga kekurangan kholin juga dapat memperbesar kebutuhan metionin (Maynard et al., 1997).

Pesti et al. (2005) menyatakan bahwa metionin sebagai komponen alam terdapat dalam konfigurasi L-Metionin. Di dalam alat pencernaan, asam amino-L (L-AA) mengalami deaminasi (pencopotan gugus amino) oleh mikroba menjadi asam keto alfa. Asam keto alfa dapat pula diaminasikan menjadi asam amino dalam bentuk L-AA atau D-AA.

Terdapat dua jenis asam amino metionin sintetis yaitu dalam bentuk powder (DL-metionin) dan liquid (Methionine Hydroxy Analogue/ MHA) (Vázquez-Añón et al., 2006). Pada umumnya metionin dibuat sintetisnya dan ditambahkan ke dalam ransum dalam bentuk DL-Metionin. Hasil beberapa penelitian memperlihatkan bahwa D-isomer metionin mempunyai pengaruh biologis tertinggi yaitu sekitar 10% lebih baik dibandinglan L-metionin. DL-metionin merupakan penengah antara bentuk D- dan L (Anggorodi, 1995).

Pemberian metionin perlu memperhatikan tingkat protein, bentuk fisik dan palatabilitas bahan pakan. Selain itu, karena metionin diketahui sebagai asam amino yang bersifat racun bila berlebihan, sehingga pemberiannya harus diperhatikan dengan baik. Kelebihan pemberiannya akan berakibat buruk pada penambahan berat badan. Terjadinya penurunan selera makan atau penurunan laju pertumbuhan dapat disebabkan oleh antagonisme asam-asam amino, walaupun efek buruknya dapat dikoreksi dengan asam amino pembatas (metionin, lysin dan triptophan) (Pesti et al., 2005).

Penambahan DL-Metionin dapat menurunkan jumlah energi bruto yang dibuang melalui ekskreta sehingga energi bruto yang diserap atau dicerna ayam meningkat. Hal ini dikarenakan metionin adalah asam amino bersifat glikogenik yang dapat meningkatkan pembentukan glukosa dan glikogen (Piliang dan Djojosoebagio, 2006). Kandungan metionin sebesar 0,32%, 0,36% dan 0,40% dalam ransum memberikan pengaruh sangat nyata terhadap bobot badan akhir dan komponen karkas (Hafsah, 1999).

Wiradisastra (2001) menyatakan bahwa tingkat metionin 0,392% dan 0,432% dalam ransum sangat nyata menyebabkan efisiensi penggunaan protein lebih tinggi daripada tingkat metionin 0,312% dan 0,352% dalam ransum yang kandungan proteinnya 18%. Attia et al. (2005) menyatakan bahwa terjadi peningkatan pertambahan bobot badan anak ayam pada perlakuan penambahan metionin 0,05% dan 0,10% dalam ransum basal yang mengandung metionin sebesar 0,32%.

Sumber :

  • Wafa, Z. 2008. Pengaruh Penambahan DL-Metionin Terhadap Nilai Energi Metabolis Ransum Ayam Broiler Starter Berbasis Jagung dan Bungkil Kedelai. Skripsi IPB.
  • Schutte, J.B., J. De jong, W, smink, and M. Pack. 1997. Replacement value of betaine for DL-methionine in male broiler chicks. J. Poultry Sci. 76: 321-325.
  • Huygherbaert, G., M. Pack, and g. De Groohe. 1994. Influence of protein concentration on the response of broilers to supplemental DL-Methionine. Arch. Gefhegelhd 58 (1):23-29.
  • Sigit, N. 1995. Penggunaan zeolit beramonium dan analog hidroksi methionin dalam ransum sapi perah laktasi. Tesis. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
  • Prawirokusumo, S., Nasrudin dan Umiyeni. 1987. Suplementasi methionin pada ransum ayam pedaging berkadar cassava tinggi. Proc. Seminar Penelitian Peternakan. Fakultas Peternakan. Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
  • Sanchez, W.K., P.R. Cheeke and N.M. Patton. 1984. Influence of diatery of soybean meal, methionin and lysine on the performance of weaning rabbits fed high alfalfa diets. J. Appl. Rabbit Res. 7: 109-116.
  • Maynard, L. A. And J. K. Loosli. 1997. Animal Nutrition. 8th Edition. Tata McGraw- Hill Publishing Ltd., Bombay.
  • Pesti, G. M., R. I. Bakalli, J. P. Driver, A. Atencio, and E. H.Foster. 2005. Poultry Nutrition and Feeding. The University of Georgia. Department of Poultry Science, Athens Georgia.
  • Vázquez-Añón, M., D. Kratzer, R. Gonza´lez-Esquerra, I. G. Yi, and C. D. Knight. 2006. A multiple regression model approach to contrast the performance of 2- hydroxy-4-methylthio butanoic acid and DL methionine supplementation tested in broiler experiments and reported in the literature. J. Poultry Sci. 85: 693-705.
  • Anggorodi, H. R. 1995. Nutrisi Aneka Ternak. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
  • Piliang, G.W. dan S. Djojosoebagio. 2006. Fisiologi Nutrisi Volume I. Institut Pertanian Bogor Press, Bogor.
  • Pesti, G. M., R. I. Bakalli, J. P. Driver, A. Atencio, and E. H.Foster. 2005. Poultry Nutrition and Feeding. The University of Georgia. Department of Poultry Science, Athens Georgia.
  • Hafsah. 1999. Respon ayam broiler pada penggunaan DL-metionin sebagai salah satu campuran bahan pakan dalam ransum. J. Agroland (Indonesia). http://www.fao.org/agris/search/display.html [1 Oktober 2007].
  • Wiradisastra, D.H. 2001. Pengaruh tingkat metionin dalam ransum terhadap retensi nitrogen dan efisiensi penggunaan protein pada ayam broiler umur 4-6 minggu. J. Ilmu Ternak 1 (1): 7-10.

1 Comment

  1. abang says:

    boleh minta jurnal tentang methioninnya gan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: