FORSUM

Home » Uncategorized » Kulit Buah Markisa (KBM)

Kulit Buah Markisa (KBM)

Buah Markisa

KBM merupakan salah satu limbah industri pengolahan buah markisa (Parcilora idollis Sims f edulis Deg.) menjadi produk minuman (sari markisa) . Dilihat dari produksi maupun kandungan zat-zat makanan yang terdapat didalamnya, limbah ini mempunyai potensi yang cukup besar untuk diolah menjadi pakan ruminansia, misalnya saja ternak kambing .

Secara nasional, produksi buah segar markisa mencapai 99 .000 ton/tahun . Kontribusi terbesar ditunjang oleh tiga provinsi yaitu, provinsi Sumatera Barat (53%), provinsi Sulawesi Selatan (24%) dan provinsi Sumatera Utara (23%) . Di Sumatera Utara sendiri, industri pengolahan hortikultura menjadi pangan cukup berkembang . PT Gunung Sibayak Intisari mampu berproduksi 10-15 ton per hari dengan limbah berupa biji dan kulit buah sebanyak 2-3 ton per hari .

Limbah tersebut belum dimanfaatkan dan malah membutuhkan biaya untuk penanganannya . Produksi limbah hasil pengolahan buah markisa relatif tinggi yaitu mencapai 60% dari berat buah dengan komposisi sekitar 45% kulit buah dan 15% biji buah (Supriyatna dan Sihite, 2006).

Untuk pengolahannya ada tiga prosedur yaitu proses pengeringan, penggilingan dan pencampuran.

Bagan pengolahan kulit buah markisa

Proses pengeringan merupakan faktor kritis untuk kulit buah dan biji markisa, karena kandungan air yang relatif tinggi saat di hasilkan dari pabrik yaitu berkisar antara 25-33%. Pengeringan harus segera dilakukan untuk menghindari kerusakanbahan (pelapukan) yang akan mengakibatkan rendahnya palatabilitas bahan bila diberikan kepada ternak.

Proses penggilingan membutuhkan mesin penggiling agar efisien . Ukuran partikel hasil penggilingan dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuan . Untuk bahan kulit buah markisa ukuran partikel hasil gilingan dapat bervariasi dari bentuk tepung (diameter saringan 1-1,5 mm atau bentuk remahan (diameter saringan sekitar 5mm). Apabila penggunaan kulit buah markisa diperuntukan bagi pembuatan konsentrat atau pakan komplit dalam bentuk pelet sebaiknya proses penggilingan diarahkan untuk menghasilkan bentuk tepung agar mendapatkan kondisi pelet yang baik . Namun, apabila penggunaannya untuk pakan komplit dalam bentuk mesh, maka disarankan dalam bentuk remahan, karena proses ini relatif lebih murah.

Sumber : Supriyatna dan E. Sihite. 2006. PROSES PENGOLAHAN LIMBAH KULIT BUAH MARKISA SEBAGAI CAMPURAN PAKAN TERNAK RUMINANSIA. Temu Teknis Nasional Tenaga Fungsional Pertanian 2006.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Twitter Forsum

%d bloggers like this: