Home » Dasar Forsum » Bahan Pakan » Contoh » Hijauan

Hijauan

Hijauan makanan ternak (HMT) merupakan semua bahan yang berasal dari tanaman dalam bentuk daun dauanan. Kelompok hijauan makanan ternak meliputi  famili rumput (gramineae), leguminosa, dan hijauan dari tumbuhan lain, seperti daun waru, nangka, dan lain-lain. Hijauan sebagai pakan ternak dapat diberikan dalam keadaan segar dan dalam keadaan kering. Bulo (2004) menyatakan bahwa dalam pengembangan ternak ruminansia di Indonesia, hijauan makanan ternak adalah faktor yang sangat penting dengan komposisi yang terbesar yaitu 70-80% dari total biaya pemeliharaan.

Tanaman hijauan secara garis besar dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Tanaman hijauan makanan ternak yang tidak dibudidayakan seperti rumput lapang, padang rumput alami, semak dan pepohonan.
  2. Tanaman hijauan yang sengaja dibudidayakan, biasanya terdiri dari satu jenis spesiaes atau campuran dari beberapa spesies saja.

Pada negara tropis rumput-rumputan dapat hidup sepanjang tahun, sedangkan pada negara musim dingin saat suhu tanah mencapai 4-6 derajad Celcius yang mencapai puncak pertumbuhannya saat musim panas.

Hal yang mempengaruhi komposisi nutrisi hijauan yaitu :

  1. Spesies tanaman
  2. Umur tanaman, contohnya PK<3% pada rumput yang sudah tua, sedangkan pada rumput yang masih muda dapat mencapai >30%.
  3. Iklim
  4. Pemupukan

Kandungan karbohidrat mudah larut dalam air (Water Soluble Carbohydrate atau WSC) pada rumput-rumputan umumnya adalah fruktan dan beberapa komponen gula seperti glukosa, sukrosa dan raffinosa. Rumput-rumputan asal temperate kandungan karbohidratnya lebih banyak dalam bentuk fruktan sebagai bahan yang mudah larut dala air (WSC) yang umumnya disimpan dalam batang, sedangkan jenis rumput-rumputan asal tropis dan subtropics umumnya lebih banyak mengandung karbohidrat dalam bentuk pati daripada fruktan dan umumnya disimpan dalam bagian daun.

Dibanding fruktan, pati lebih sulit larut dalam air sehingga kandungan WSC rumput-rumputan asal tropis sangat rendah (<6%) dibandingkan rumput-rumputan asal temperate (>7%). Kandungan nutrisi hijauan tersebut perlu diperhatikan sehubungan dengan proses pengawetan hijauan baik berupa pengawetan kering (hay) maupun pada proses pengawetan basah/segar (silase).

Penggolongan tanaman budidaya maupun alami yang umum digunakan sebagai hijauan makanan ternak terdiri atas jenis rumput-rumputan (gramineae), perdu atau semak (herba), dan pepohonan. Spesies hijauan yang memiliki potensi tinggi sebagai hijauan makanan ternak, antara lain: rumput-rumputan, perdu/semak dan legum pohon. Rumput-rumputan terdiri atas rumput para (Brachiaria mutica), rumput benggala (Panicum maximum), rumput kolonjono (Panicum muticum), dan rumput buffel (Cenchrus ciliaris).

Perdu/semak terdiri atas beberapa jenis legum seperti kacang gude (Cajanus cajan), komak (Dolichos lablab), dan perdu lainnya dari limbah tanaman pangan pertanian seperti jerami padi, jagung, kedelai, kacang tanah, ubi jalar dan daun ubi kayu. Legum pohon terdiri atas sengon laut (Albazzia falcataria), lamtoro (Leucaena leucocephala), kaliandra (Calliandra calothyrsus) dan turi (Sesbania grandiflora) (Reksohadiprojo, 1984).

Manurung (1996) menyatakan bahwa hijauan leguminosa merupakan sumber protein yang penting untuk ternak ruminansia. Keberadaannya dalam ransum ternak akan meningkatkan kualitas pakan. Limbah pertanian adalah hasil ikutan dari pengolahan tanaman pangan yang produksinya sangat tergantung pada jenis dan jumlah areal penanaman atau pola tanam dari tanaman pangan disuatu wilayah (Makkar, 2002)

Sumber :

  • Bulo, D. 2004. Beberapa kajian teknologi hijauan pakan untuk mendukung pengembangan ternak ruminansia. Prosiding Seminar Nasional Klinik Teknologi Pertanian Sebagai Basis Pertumbuhan Usaha Agribisnis Menuju Petani Nelayan Mandiri. Manado, 9-10 Juni 2004. Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departeman Pertanian. Bogor. Hlm 973-980.
  • Diktat PBMT Departemen Nutrisi dan Teknologi Pakan IPB
  • Dziyaudin, M. 2012. Geographical Information System Application to See Forage Requirement and Land Use at Ranch Business Area’s Dairy Cattle of Bogor’s Regency. Skripsi. Bogor Agricultural University.
  • Makkar, H.P.S. 2002. Applications of the in vitro gas method in the evaluation of feed resources, and enhancement of nutritional value of tannin-rich tree/browse leaves and agro-industrial by-products. Dalam:Development And Field Evaluation of Animal Feed Suppplementation Packages. Prooceeding of The Final Review Meeting of An IAEA Technical CoOperation Regional AFRA Project Organized By The Joint FAO/IAEA Division of Nuclear Techniques in Food and Agriculture. Cairo – Egypt, 25-29 Nov 2000. IAEA-TECDOC-1294. Vienna. Hlm 23-40.
  • Manurung, T. 1996. Penggunaan hijauan leguminosa pohon sebagai sumber protein ransum sapi potong. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 1(3): 143-147.
  • Reksohadiprojo, S. 1984. Produksi Hijauan Makanan Ternak Tropik. Fakultas Ekonomi UGM. Yogyakarta.

3 Comments

  1. turaina says:

    terimakasih infonya :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,116 other followers

%d bloggers like this: